Hakikat Zaman dan Relativitas Waktu

Hakikat Zaman dan Relativitas Waktu

Hakikat Zaman dan Relativitas Waktu

Hakikat Zaman dan Relativitas Waktu

 “…dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-NYA melainkan yang Dia kehendaki..” (QS Al Bararah, 2 : 255)

Banyak para pemikir yang berusaha mengetahui kesejatian zaman namun tanpa merujuk pada AlQuran dan dan sunnah-sunnah Rasul-Nya, lalu bagaimana mungkin mereka mendapatkan ilmu yang benar jika mengesampingkan Sang Maha ilmu dan Pemilik ilmu?

Teramat penting bagi kita untuk selalu merujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul-NYA sebagai rujukan karena ilmu yang kita dapatakan kelak tidak hanya sebagai pengetahuan yang mengisi kepala namun juga bisa menjadi cahaya hidayah di dalam hati.

Begitupula ketika manusia ingin memahami hakikat zaman yang hingga kini masih menyibakkan rahasia-rahasia yang hanya bisa diketahui dengan Ilmu-Nya.

 Apa Itu Zaman ?

Kebanyakan para pemikir maupun ilmuwan terdahulu memaknai zaman sebagai wujud yang tunggal dan absolut seperti halnya kita memaknai masa lalu, masa kini dan masa depan berjalan berurutan sesuai kaidah standar waktu yang sama . Mereka belum mengatahui bahwa dalam kehidupan ini ada beragam wujud zaman. Misalnya, ada zaman geologi yang berlangsung pada benda-benda padat (Jamadat). Ada zaman kosmologi yang terkait dengan pergerakan benda benda langit dan juga ada zaman biologi yang berkaitan dengan dimensi benda-benda hidup dan tubuh makhluk yang bernyawa.

Lain halnya dengan orang-orang yang mengkaji Al Qur’an dalam memaknai zaman. Mereka akan dapat memahami pengertian yang benar dan lurus apabila berfikir tidak dengan hawa nafsunya dan tunduk dengan sesuatu yang di wahyukan Allah SWT. Walaupun belum dapat menyibakkan seluruh misteri yang ada, namun pemahaman tersebut setidaknya tidak akan bertentangan dengan sunatullah yang sudah digariskan oleh Allah SWT.

Zaman tidak bisa dipisahkan dengan dimensi ruang dan waktu. Baik waktu maupun ruang adalah ciptaan Allah SWT yang bekerja dengan ketetapan yang digariskan dalam sunatullah atau hukum alam.

Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy… (Qs As Sajadah, 32 : 3).

Selain itu Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Hisyam Abdu Saad, dari Zaid Ibnu Aslam, dari Dzakwan, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda ;

“Janganlah kalian mencaci masa. Sesungguhnya Allah SWT berfirman, ‘Akulah pencipta masa, hari dan malam adalah milikKu, Aku memperbaharui dan menurunkan ujian didalamnya, dan Aku mengangkat serta menurunkan raja-raja’ ”.

Dan karena ruang dan waktu adalah ciptaanNYA maka Allah SWT berada di luar dimensi tersebut sehingga semua peristiwa di dalam ruang dan waktu pastilah di dalam genggamanNYA.

Dari situlah kita memaknai bahwa segala sesuatu selain Allah SWT adalah ciptaanNYA termasuk ruang dan waktu itu sendiri, sehingga perguliran rangkaian zaman akan selalu diselimuti oleh takdirNYA. Karena di sisi  Allah SWT. rangkaian zaman telah selesai. Masa lalu, masa kini dan masa depan telah digariskan dalam sebuah takdir yang telah tertulis ketika zaman itu bermula hingga zaman berakhir.

 Relativitas waktu dalam Al Qur’an

Hakikat Zaman dan Relativitas Waktu

Hakikat Zaman dan Relativitas Waktu

Lalu bagaimana dengan konsep waktu ?. Hal ini sudah sangat jelas dalam Al Qur’an yang diturunkan pada 15 abad silam.  Adalah fakta bahwa Al Qur’an menyingkap adanya fenomena relativitas waktu yang terjadi seperti dalam FirmanNya berikut ;

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.” (QS Al Hajj, 22 : 47)

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS As Sajadah, 32:5)

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (QS Al Ma’aarij, 70:4)

Dalam ayat lainnya disebutkan bahwa manusia merasakan waktu secara berbeda, dan bahwa terkadang manusia dapat merasakan waktu sangat singkat sebagai sesuatu yang lama:

“Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman: ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.” (Al Qur’an, 23:112-114)

Para ilmuwan menemukan teori relativitas waktu 13 abad sesudah Al Qur’an lengkap di wahyukan kepada Rasulullah SAW. Teori ini pertama kali dilontarkan oleh Albert Einstein pada tahun 1905. Ia menuturkan, “Kita tak mungkin berbicara zaman tanpa tempat dan tak bisa bicara tempat tanpa zaman. Segala sesuatu yang bergerak butuh ruang dan waktu.” Einstein juga menegaskan, “ Waktu hanya eksis dengan gerakan, benda dengan gerakan dan gerakan dengan benda. Adanya waktu, ruang, gerakan dan benda semuanya relatif dan tidak absolut. Itu berarti, seluruh fenomena materi (fisik) adalah relatif satu sama lain. Mereka tidak independen dan tidak absolut.

 Untuk lebih memahami waktu bersifat relatif, kita bisa mengambil contoh menggunakan paradox waktu dua bersaudara, yang satu melakukan perjalanan keluar angkasa dan yang satunya menetap di bumi menunggu saudaranya pulang ke bumi.

Lincoln Barnett mengumpamakannya sebagai berikut :

Hakikat Zaman dan Relativitas Waktu

Hakikat Zaman dan Relativitas Waktu

Ada dua saudara kembar: salah seorang tinggal di bumi sementara yang lainnya pergi ke luar angkasa dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Ketika penjelajah luar angkasa ini kembali ke bumi, ia akan mendapati saudaranya menjadi lebih tua daripada dirinya. Hal ini terjadi karena waktu berjalan lebih lambat bagi orang yang bepergian dalam kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Hal yang sama terjadi pula pada seorang ayah penjelajah luar angkasa dan anaknya yang berada di bumi. Jika pada saat pergi, sang ayah berumur 27 tahun dan anaknya berumur 3 tahun; ketika sang ayah kembali ke bumi 30 tahun kemudian (waktu bumi), anaknya akan berumur 33 tahun tetapi sang ayah masih berumur 30 tahun.

Fenomena ini kemudian di tuangkan dalam persamaan matematis berikut :

Hakikat Zaman dan Relativitas Waktu

Hakikat Zaman dan Relativitas Waktu

Penjelasan diatas menegaskan bahwa hitungan waktu tidak lah absolut. Waktu bersifat relatif terhadap gerak dan gerak membutuhkan ruang. Jika kita membayangkan sebuah mistar yang lentur kemudian melengkungkan mistar tersebut hingga kedua ujungnya hampir bertemu, maka kita akan mendapatkan dua lintasan untuk menempuh dari satu ujung mistar ke ujung yang lain; pertama, lintasan yang melalui badan mistar yang melengkung dan yang kedua adalah lintasan garis lurus antara dua ujung mistar setelah di lengkungkan.

Hakikat Zaman dan Relativitas Waktu

Hakikat Zaman dan Relativitas Waktu

Allah SWT. memerintahkan kita untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin karena waktu adalah bekal yang diberikan untuk manusia dalam meraih kehidupan yang kekal di akhirat. Karena Ia juga yang menciptakan ruang dan waktu, maka tentunya Allah SWT pun diluar dimensi tersebut. Di sisi Allah segala urusan telah selesai diatur dalam rangkaian takdir. Dan prinsip memahami takdir ialah bahwa Allah SWT maha adil akan segala ketetapanNya. Dan karena kita belum tau ujung dari garis takdir kita masing-masing, maka dengan ikhtiar yang terbaik untuk mendapatkan keridhoanNya adalah jalan yang semestinya kita tempuh.

… Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan  yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(QS. Ar Ra’d, 13:11)

Wallahu’alam.()

[]Abu Faiz

 

Sumber :

  • Ensiklopedia Mukjizat ilmiah Al Quran dan Hadits Nabi – Syaamil
  • keajaibanalquran.com
  • Relativitas waktu dan Realitas takdir – Harun Yahya

Komentar

Komentar

Bagikan kepada yang lain...