Kaidah Memilih Pemimpin

Pilihlah calon pemimpin yang memiliki atau mendekati 3 kriteria tersebut.Semoga Allah senantiasa memudahkan urusan kaum Muslimin.

Pilihlah calon pemimpin yang memiliki atau mendekati 3 kriteria tersebut.Semoga Allah senantiasa memudahkan urusan kaum Muslimin.

Banyak umat Islam Indonesia yang belum memahami kaidah penting ini.Padahal dalam Islam masalah kepemimpinan adalah sesuatu yang WAJIB.Banyak kita jumpai pembahasa dalam kitab-kitab klasik berkenaan masalah Imamah.

Tulisan ini ingin mereview kembali menjelang diadakannya Pilkada serentak 9 Desember 2015 mendatang.Agar kekeliruan memilih pemimpin ini tidak terjadi kembali yang hanya mendatangkan murka Allah dan kerusakan dimana-mana.Juga menanggapi kekeliruan pandangan Ust.Maulana yang masih satu daerah dengan saya.

Wajibnya Ada Pemimpin

Tidak diragukan lagi bahwa dalam Islam wajib bagi kaum muslimin mengangkat pimpinan.Bahkan dalam satu hadits dijelaskan bila ada dua orang yang melakukan perjalanan (safar) hendaknya mengangkat salah satunya sebagai pemimpin.

Ketika Nabi Muhammad saw. berkuasa di Jazirah Arab, beliau pernah mengangkat sahabat Mu’adz bin Jabal r.a. sebagai Gubernur di wilayah Yaman. Beliau menguji kelayakan sahabatnya ini dengan menanyakan: Dengan apa engkau memutuskan perkara? Muadz menjawab: Dengan kitabullah (Al Quran). Nabi bersabda: Kalau tidak kau jumpai dalam Kitabullah, dengan apa? Mu’adz menjawab: Dengan Sunnah Rasulullah saw. Nabi saw. bersabda: Kalau tidak engkau temukan di sana? Mu’adz menjawab: Aku kan berijtihad dengan pendapatku. Dan aku tidak akan sembarangan.

Kriteria Pemimpin Terbaik

1.Muslim

Hendaklah mengangkat pemimpin yang muslim.Apapun keadaanya,lebih utama daripada mengangkat pemimpin kafir.Kalau pemimpin muslim ini melakukan maksiat maka dia yang akan menanggungnya secara pribadi kelak.Namun bila mengangkat pimpinan kafir ,dia akan merusak semuanya.

Dalam al-Qur’an sendiri, ditegaskan akan HARAMnya mengangkat pemimpin kafir selama masih ada yang muslim.Allah berfirman :

* $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#rä‹Ï‚­Gs? yŠqåkuŽø9$# #“t»|Á¨Z9$#ur uä!$u‹Ï9÷rr& ¢ öNåkÝÕ÷èt/ âä!$uŠÏ9÷rr& <Ù÷èt/ 4 `tBur Nçl°;uqtGtƒ öNä3ZÏiB ¼çm¯RÎ*sù öNåk÷]ÏB 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw “ωôgtƒ tPöqs)ø9$# tûüÏJÎ=»©à9$# ÇÎÊÈ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(QS.al-Maidah :51)

Bagaimana kalau ada pandangan yang menganggap pemimpin kafir lebih baik daripada muslim?. Tetap kita berpegang pada kaidah al-Qur’an.Memilih pemimpin muslim.

Lihatlah bagaimana kerusakan masyarakat dan tatanan yang rusak karena pemimpin kafir disekitar kita.Padahal kita menilainya anti-Korupsi,pintar dan tegas.Namun ternyata mereka memiliki kekurangan.Lihatlah kerusakan di Negara-negara barat yang dipimpin oleh para pemimpin kafir!.

Namun demikian,bilamana kita mengangkat pemimpin muslim namun khianat atau melakukan kesalahan maka ada tahapan mengingatkan penguasa.Dan kaum muslimin hanya boleh taat pada kebaikan.Bila ada keputusan atau perintah maksiat,maka tidak boleh taat sebagaimana sabda Nabi:

لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ

“Tidak boleh taat pada kemaksiatan kepada Allah”

2.’Alim.Ulama

Syarat selanjutnya adalah calon pemimpin itu adalah orang yang ‘alim (ulama) dan memiliki pengetahuan untuk memimpin.Inilah syarat yang saat ini krisis di tengah-tengah umat Islam.

Giliran ada ulama yang menjadi pemimpin malah dicela dengan gaya sekuler.Mereka mencela terlibatnya ustadz/ulama dalam pemerintahan lantaran menganggap agama dan Negara adalah berbeda dan harus terpisah.

Bukankah Nabi Muhammad adalah pemimpin Negara yang juga ulama.Penghulu para ulama.?.Kalau begitu hendaknya mengangkat pemimpin dari kalangan pewaris para Nabi.Dan jangan terkecoh dengan ulama karbitan,KW,palsu atau ulama suu’ (buruk).

3.Tidak meminta jabatan

Sesungguhnya godaan harta,tahta dan jabatan itu bisa menggelincirkan seorang muslim yang ‘alim.Maka dari itu jangan memilih calon pemimpin yang meminta dan berharap jabatan dan kekayaan.

Abu Sa’id ‘Abdurrahman bin Samurah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku,

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا ، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kekuasaan karena sesungguhnya jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong untuk menjalankannya. Namun, jika engkau diberi kekuasaan karena memintanya, engkau akan dibebani dalam menjalankan kekuasaan tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 7146 dan Muslim no. 1652)

Imam Nawawi membawakan hadits di atas dalam kitab Riyadhus Sholihin pada Bab “Larangan meminta kepemimpinan dan memilih meninggalkan kekuasaan apabila ia tidak diberi atau karena tidak ada hal yang mendesak untuk itu.”

Ibnu Hajar berkata, “Siapa yang mencari kekuasaan dengan begitu tamaknya, maka ia tidak ditolong oleh Allah.” (Fathul Bari, 13: 124)

Hendaklah kita mengangkat orang yang ikhlas melakukan perbaikan dan membantu urusan kaum muslimin.Bukan untuk kepentingan diri dan kelompoknya.

Pilihlah calon pemimpin yang memiliki atau mendekati 3 kriteria tersebut.Semoga Allah senantiasa memudahkan urusan kaum Muslimin.

Komentar

Komentar

Bagikan kepada yang lain...

Redaksi

Tentang Redaksi

ZonaGaul adalah zona menambah wawasan umum dan Islam buat pemuda-pemudi Indonesia